HUKUMAN FISIK

Penggunaan hukuman dalam pengendalian perilaku manusia bukan hanya untuk memutuskan apakah itu bekerja. Disamping pertanyaan psikologi yang terlibat dalam menghukum orang-orang yang berperilaku tidak baik adalah masalah moral dan hukum. Hukuman fisik didefinisikan dalam istilah pendidikan sebagai hukuman yang menimbulkan rasa sakit yang dilakukan oleh seorang guru atau pihak sekolah pada tubuh seorang murid sebagai hukuman karena melakukan sesuatu yang dilarang oleh si penghukum tersebut. Hukuman tersebut terdiri dari pengurungan diruangan yang tidak nyaman, dipaksa memakan makanan yang menjijikan, dan berdiri dalam waktu yang lama.

Secara umum diasumsikan bahwa hukuman fisik di sekolah-sekolah jarang diberikan, dengan ringan tangan, dan terutama kepada siswa SMA yang menggambarkan seperti apa ancaman fisik dari guru. Semua asumsi tidak benar. Sistem sekolah Dallas, Texas, melaporkan rata-rata lebih dari 2000 kasus hukuman fisik perbulan selama tahun ajaran 1971-1972. Ada lebih dari 46000 kasus hukuman fisik dilaporkan dalam sekolah California pada tahun 1974 (tidak termasuk seluruh kota Los Angeles). Hanya 5 persen dari mereka yang berada disekolah tinggi. Sasaran utama dari hukuman fisik adalah laki-laki dari segala usia dan anak-anak diatas kelas 4. Hukuman seperti itu seringkali brutal, termasuk pemukulan bahkan menendang.

Empat alasan yang paling umum dalam menggunakan hukuman fisik adalah: (a) itu adalah metode yang terpercaya dan efektif untuk mengubah perilaku yang buruk, (b) dapat mengembangkan rasa tanggung jawab pribadi masing-masing, (c) siswa belajar disiplin diri, (d) membantu mengembangkan karakter moral.

Ada alasan untuk meragukan ke-efektivitasan dalam sebuah hukuman dalam mencapai suatu tujuan. Perilaku target tertekan hanya jika hukuman berat dan berulang-ulang, lalu kemudian hanya dihadapan sang guru penghukum. Selain itu, efek samping dari pengontrolan yang tidak menyenangkan ini adalah berkembangnya sikap negatif/pikiran negatif tentang sekolah atau belajar, menghindari guru/menghindar dari guru, pembolosan, ketidaktaatan kepada otoritas, perusakan, dan mungkin belajar menggunakan kekerasan terhadap orang yang lebih muda, siswa yang lemah.

Ada banyak cara alternatif dalam penggunaan hukuman fisik di dalam kelas, “Time-out room” dan penolakan hak istimewa kelas lebih efektif. Perbincangan pribadi dengan siswa pengganggu/siswa bermasalah dapat dipakai sesering mungkin. Diskusi kelas yang membahas tentang perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima dan tanggung jawab bersama untuk disiplin dapat membantu menciptakan suasana kelas yang demokratis. Dan tentu saja dengan kurikulum yang lebih menarik dan persiapan yang lebih baik dari para guru dalam mengatur anak-anak dengan penggunaan dorongan yang positif dan penguatan akan mengurangi hukuman.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s